LPCK, Kupas Tuntas Kepemilikan MSU (Proyek Meikarta)

Spread the love

Partisipasi PT Lippo Cikarang Tbk (LPCK) pada Proyek Meikarta dilakukan melalui PT Mahkota Sentosa Utama (MSU). Banyak rumor yang beredar bahwa LPCK telah menjual sebagian saham MSU kepada pihak asing karena adanya pemeriksaan oleh KPK terkait kasus suap perizinan. Hal ini sendiri sudah dibantah oleh James Riady, CEO Lippo Group. Dan postingan kali ini akan mengupas tuntas melalui analisa pada Laporan Keuangan (LK) LPCK.

LK Q4 2015

PT Mahkota Sentosa Utama (MSU) pertama muncul di LK Q4 2015 dengan nilai aset (awal) 1.25 Milyar Rupiah. Tampaknya anak perusahaan ini akan dipersiapkan untuk mewakili proyek Meikarta.

LK Q4 2016

Aset MSU berkurang senilai 575 Juta Rupiah. Dilihat dari bidang usaha MSU adalah pemasaran dan pengelolaan gedung, tampaknya untuk uang tersebut digunakan untuk membiayai pemasaran proyek Meikarta.

10 Maret 2017

Adanya perjanjian jual beli bersyarat yg isinya:
LPCK menyetujui masuknya Hasdeen Holdings Ltd (HH) ke dalam proyek MSU (secara tidak langsung melalui PEAK). Nilai investasi sebesar 300 Juta USD akan diangsur hingga 31 Desember 2018.

15 Maret 2017

adanya perjanjian investasi yang intinya adalah:

  1. masuknya Masagus Ismail Ning (IN) sebagai pemegang saham baru di MSU dengan penjualan 3 saham PEAK di harga nominal.
  2. MSU akan mengeluarkan saham baru dan akan diserap oleh PEAK dengan dana 300 Juta USD yang diperoleh dari HH
  3. Hasil akhirnya adalah saham MSU dipegang oleh:
    PEAK 49.99%
    MKCP 49.99%
    IN 0.02%

LK Q1 2017

Perusahaan Peak Asia Investment Pte. Ltd (PEAK) pertama terlihat di LK Q1 2017. Nilai aset awal PEAK adalah 13,321 (benar: hanya tiga belas ribu rupiah lebih).

LK Q2 2017

Tidak ada perubahan pada MSU & PEAK.

LK Q3 2017

Laporan Keuangan periode ini agak tricky untuk dibaca. Penyebabnya adalah karena walaupun HH telah menyerahkan dana investasi nya melalui PEAK untuk partisipasi tidak langsung pada MSU, namun HH belum juga mengambil alih PEAK. PEAK masih tetap menjadi anak perusahaan LPCK 100%. Jumlah dana yang telah diserahkan HH adalah 2,496,327,000,000 (2.49 Trilyun rupiah). Maka secara tidak langsung baik PEAK dan MSU masih 100% milik LPCK *tapi hanya di atas kertas. Dana ini dicatat di pos “Komponen ekuitas lain” dalam Neraca Laporan Keuangan LPCK.

LK Q4 2017

Dana yang telah diserahkan HH adalah 3,107,748,000,000 (3.1 Trilyun rupiah) dan HH belum mengambil PEAK. Total aset MSU pada saat ini adalah 7.2 Trilyun rupiah.

LK Q1 2018

Belum ada dana tambahan dari HH. Aset MSU pada saat ini adalah 7.6 Trilyun rupiah.

11 Mei 2018

Berdasarkan Akta Notaris No.13, tanggal 11 Mei 2018:

  1. PEAK melepaskan 14,000 saham MSU kepada IN dengan harga pengalihan sebesar 14 Juta rupiah.
  2. LPCK melepas seluruh saham PEAK kepada HH dengan harga pengalihan sebesar 1 SGD.
  3. MSU menerbitkan 14,000 saham baru yang diambil alih oleh PEAK dengan harga 4.05 Trilyun

Akta Notaris ini adalah penyelesaian dari perjanjian sebelumnya. Ada beberapa hal kecil yang berubah namun tidak signifikan. Inti dari kejadian ini adalah penyerahan PEAK (beserta MSU di dalamnya) kepada HH.
Angka 14 Juta hanya untuk pengalihan saham MSU kepada IN.
Angka 1 SGD hanya untuk pengalihan PEAK ke HH.
Angka 14,000 saham baru adalah pengganti saham PEAK yang diserahkan ke IN
Angka 4.05 Trilyun adalah angka investasi 300 Juta USD di perjanjian sebelumnya.

LK Q2 2018

di Laporan Keuangan ini beberapa hal sebagai akibat dari penyerahan PEAK ke HH, yaitu:

  1. Kepemilikan PEAK oleh LPCK menjadi 0% (dari 100%)
  2. Kepemilikan MSU oleh LPCK menjadi 49.72% (dari 100%)
  3. MSU menjadi entitas asosiasi (dari sebelumnya anak usaha)
  4. Hilangnya Komponen Ekuitas Lain (dana titipan HH)
  5. Dekonsolidasi MSU dicatat sebagai nilai wajar investasi senilai 2.2 Trilyun (bukan aset!)
  6. Kepemilikan MSU di luar LPCK tidak diketahui porsinya, baik IN maupun PEAK.

Di Laporan ini terlihat bentuk GCG dari perusahaan dengan mencantumkan kejadian setelah periode pelaporan mengenai kejadian tanggal 15 Oktober 2018, KPK melakukan pemeriksaan terhadap beberapa orang atas dugaan suap yang berkaitan dengan pengajuan perizinan proyek Meikarta yang dimiliki oleh MSU. Jadi perusahaan sangat transparan terhadap para stakeholder.

LK Q3 2018

nilai wajar investasi pada MSU dicatat turun (rugi) 314 Milyar sehingga menjadi 1.9 Trilyun rupiah.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *