LPPF, Era of Stagnantion

Spread the love

Berdasarkan pertumbuhan laba di laporan keuangan tahunan 2015, saya mengasumsi bisnis LPPF dapat tumbuh 25% per tahun dan valuasi saya ada di 18000, saya membeli di harga 13.250 (di portofolio yg saya beri nama IDX20). Di tahun 2016 pertumbuhannya mulai menghilang, di tahun 2017 semakin mengkonfirmasi bahwa LPPF tidak tumbuh lagi. di laporan kuartalan kedua tahun 2018 ini lagi-lagi laba LPPF tidak tumbuh. LPPF sudah masuk ke era stagnantion.

Memang di saat ini laba masih positif, dividen lancar, operasional berjalan normal tanpa ada masalah. Namun di sisi harga sahamnya, valuasinya harus disesuaikan dari pertumbuhan 25% menjadi 0%. Setelah saya hitung ternyata valuasinya tinggal 5.100. (harga saat ini 7.100).

Usaha untuk mengikuti perkembangan zaman seperti mengembangkan mataharimal.com dll belum membuahkan hasil. What next?

Situasi ini banyak dialami oleh pelaku pasar modal, dimana posisi sudah -46.4% (tidak menghitung dividen). Di sini saya ingin share apa yang saya lakukan. Mungkin apa yang saya bagikan bisa saja salah karena saya masih termasuk newbie (sekitar 5+ tahun di pasar modal Indonesia, dgn return berkisar 15% setiap tahun).

Bagi yang punya posisi dan melihat chart (grafik harga) pasti berpikir LPPF sudah sangat murah saat ini. Ditambah lagi berjalannya waktu “mungkin” nanti akan ada growth sehingga valuasinya berubah lagi. Keputusan saya adalah JUAL. Prinsip saya adalah membeli karena valuasi, perhitungan angka. Bukan cerita atau harapan…

Namun saya menyesuaikan dengan kondisi portofolio saat ini, karena saya punya cash 19% yang belum dibelanjakan dan punya 1 posisi yg karena harga sahamnya naik banyak menggelembung menjadi 43% portofolio, maka proses jual LPPF saya lakukan dengan prioritas rendah karena balancing portofolio menjadi prioritas lebih utama. (portofolio ini menjadi tidak balance karena tidak dimantain sekitar 2 tahun)

Jika portofolio sudah balance, maka saya akan menjual LPPF tanpa beban mental. Portofolio IDX20 ini saya bagi menjadi 20 bagian (setiap bagian 5%), namun tidak berarti punya 20 saham. Jika ada saham yang saya yakin, saya akan ambil 2 bagian, 3 bagian atau 4 bagian (max 20%). Pembagian ke 20 bagian ini membuat saya lebih tenang melihat gejolak harga. Bukan hanya ketika harga turun, namun juga ketika harga naik. Dari pengamatan saya, banyak orang yg bisa hold ketika rugi, namun ketika untung sedikit cepat-cepat direalisasikan. Sehingga pada jangka panjang, portofolionya hanya tumbuh sedikit. Jadi bersabar dan tetap tenang ketika saham kita naik juga adalah hal yang penting menurut saya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *