AISA, Berakhirnya Divisi Beras

Spread the love

Kasus yang dialami AISA (PT Tiga Pilar Sejahtera Food Tbk) tepatnya pada malam 20 Juli 2017 telah menyeret turun harga sahamnya dari 1600 (open 22 Juli 2017) hingga 168 (closing dan suspend saat ini). Kasus ini hampir 1 tahun berlalu, dan di post kali ini saya ingin melakukan review ulang secara singkat apa yang terjadi. Dari penggerebekan tersebut disita 1161 ton beras dengan merek Maknyuss dan Ayam Jago. Proses kasus ini berjalan panjang hingga Januari 2018 dan mungkin bagi orang awam akan merasakan banyak keanehan dalam kasus ini. Saya tidak mau bahas kasusnya, tapi mau bahas hasilnya saja. Saya turut berduka cita untuk sesama investor yang menjadi korban dalam kasus ini.

Hasil kasus ini:

19 Desember 2017 pada Public Expose AISA menjelaskan jika divisi beras sudah berhenti beroperasi, karyawan tidak dirumahkan, melainkan di-PHK atau sedang dalam proses PHK

22 Januari 2018 PT IBU yang merupakan anak usaha AISA akhirnya dinyatakan bersalah.

2 Februari 2018 Direktur PT Sarijati Srirejeki anak usaha AISA juga dinyatakan bersalah.

22 Maret 2018 pada RUPO & RUPSI TPS Food I /2013 menyetujui perpanjangan jatuh tempo 12 bulan menjadi 05 April 2019 dan bunga dibayarkan setiap 6 bulan (dari sebelumnya 3 bulan)

29 Maret 2018 Direktur Independen mengundurkan diri.

15 Mei 2018 AISA membatalkan Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan & Luar Biasa

5 Juli 2018 AISA gagal membayar bunga obligasi nya (default) dan mengakibatkan sahamnya disuspend

Hingga 5 Juli 2018 Saham yang dimiliki Tiga Pilar Corpora tinggal 166,105,285 lembar atau sebesar 5.16% (dari sebelum kasus 29.1%)

Dengan valuasi yang sudah lebih rendah dari PBV 0.2, saya mulai menimbang apakah AISA merupakan sebuah pilihan investasi? Menurut berita ketika AISA gagal bayar bunga obligasinya, kas perusahaan tinggal 30 – 40 Milyar. Artinya sudah ada masalah likuiditas. Ditambah lagi menjual bisnis berasnya saat ini semakin susah karena pasca kasus AISA ini pemerintah telah menetapkan HET untuk beras premium di kisaran 13.000 per kg (yg mana harga eceran beras AISA sebelumnya di kisaran 22.000 per kg).

Calon pembeli yang paling memungkinkan saat ini adalah PT Jom Prawarsa Indonesia (JPI) yang juga masih berelasi dengan AISA (direktur sama, Stefanus Joko Mogoginta). Meskipun direktur pernah mengatakan “manajemen dan pemegang saham pendiri tidak lari meninggalkan perusahaan walau susulit apapun persaoalan yang dihadapi perusahaan” namun pada kenyataannya ada piutang AISA pada JPI (hasil divestasi anak perusahaan AISA sebelumnya) sebenarnya dapat mengeluarkan AISA dari masalah likuiditas. Sampai saat ini piutang tsb tidak dilunasi meskipun JPI dikenai denda. Malah pada laporan keuangan tahunan 2017 terlihat ada piutang baru yang nilainya cukup untuk membayar bunga obligasi…

Opini saya adalah AISA ingin menegosiasikan ulang kewajiban Obligasi dan Sukuk Ijarah nya. Dengan demikian kondisi TPC mengurangi porsi kepemilikan, bunga obligasi tidak dibayar, saham disuspend adalah rangkaian yang mungkin masih akan panjang perkembangannya. Mungkin hingga kasus beras ini tidak lagi menjadi isu sensitif di publik dan ada pembeli divisi berasnya. Jadi saya pribadi memilih untuk tidak ambil posisi dahulu pada saham AISA. Valuasi divisi bihun dan snack nya tidak perlu dibahas lebih lanjut. Untuk Obligasi dan Sukuk Ijarah TPS Food I nya menjaminkan aset TPS sendiri, bukan hanya divisi beras. So stay away…

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *